A Judul Praktikum : Pembuatan Koloid (Es Krim) B. Tujuan : Membuat Es Krim dengan sistem kolioid Buih. C. Dasar Teori : Es krim sebenarnya tak lain adalah busa, atau gas yang terdispersi dalam cairan. Es krim terlihat padat namun jika diamati di bawah mikroskop, es krim tampak terbentuk dari empat komponen, yaitu padatan globula lemak susu Pembuatankoloid (es krim) b. Susu termasuk koloid, dengan fase terdispersi dan medium pendispersi adalah zat cair , dengan nama koloid emulsi. Ujian Praktek Fisika Kelas 12 Membuat Alat harris (2011) komposisi adonan saat pembuatan ice cream akan. Laporan praktikum pembuatan es krim. Inilah sebabnya mengapa penambahan garam dapat penurunkan titik lebur air, Percobaankedua dilakukan dengan membuat es krim. Ketika bubuk es krim dicampur dengan air terjadilah sistem koloid dengan wujud sol. Hal ini dikarenakan bubuk es krim yang berwujud padat berperan sebagai zat terdispersi dan air yang tentunya berwujud cair berperan sebagai medium pendispersi (padat dalam cair). Campuran bubuk es krim dengan air merupakan sistem koloid reversible karena jika Koloidpelindung ini sering digunakan pada sistem koloid tinta, cat, es krim, dan sebagainya; agar partikel-partikel koloidnya tidak menggumpal. Peptisasi adalah cara pembuatan koloid dengan menggunakan zat kimia (zat elektrolit) untuk memecah partikel besar (kasar) menjadi partikel koloid. Contoh, proses pencernaan makanan dengan enzim dan Kalauada yang mengklaim berhasil membuat es krim selembut yang di toko dengan cara mixer+freezer berkali-kali, sangat luar biasa dan ini jarang sekali terjadi bahkan mungkin belum pernah terjadi. Kalau tidak punya Mesin Ice Cream, mending titipkan adonan kepada pembuat es puter keliling. Atau buat sendiri sajalah gampang, ambil ember plastik CaraMembuat Es Krim Alat Panci Kompor Wadah plastik Mikser Freezer · Bahan · Susu cair · Telur 6 buah · Gula · Bubuk coklat · Dark cooking chocolate · Essens vanili dan coklat · Susu kental manis coklat dan vanilla · Chocochips dan biskuit Langkah-langkah pembuatan Mencampurkan susu cair 100 ml dengan essens vanilla. Lalu memanaskannya 4GFxN. Pembuatan Koloid – Halo Grameds, dalam artikel kali ini kita akan membahas tentang koloid. Mulai dari pengertian, jenis, sifat, hingga cara pembuatan koloid. Saat membaca artikel ini, kamu mungkin belum terbayang apa itu koloid, bentuknya seperti apa. Tak apa, Grameds, sebab kata “koloid” memang jarang digunakan di kehidupan sehari-hari. Namun, bukan berarti kamu gak pernah menemukannya sama sekali, ya. Sebab koloid ada di sekitar kita. Waktu kecil dulu, Grameds pasti pernah jajan agar agar yang dijual di depan sekolah, di pinggir jalan, atau di mana saja deh! Agar agar merupakan makanan berupa gel yang diolah dari rumput laut. Nah menurut ilmu kimia, gel termasuk ke dalam koloid. Koloid sendiri merupakan satu dari tiga jenis campuran yang ada dalam kimia, dua lainnya adalah larutan serta suspensi. Selain agar agar, susu, es krim, mayones, sampo, dan juga tinta merupakan contoh koloid lain yang bisa kamu temukan dengan mudah. Biar kamu mendapat pencerahan, mari langsung saja masuk ke dalam pembahasan tentang koloid. Sebenarnya Koloid Itu Apa, Sih?Jenis-Jenis Koloid1. Sol Padat2. Sol3. Aerosol Padat4. Aerosol5. Emulsi Padat6. Emulsi7. Buih Padat8. BuihSifat-Sifat Koloid1. Efek Tyndall2. Gerak Brown3. Adsorpsi4. Koagulasi Koloid5. Dialisis6. Elektroforesis7. Koloid Liofil dan Liofob8. Koloid PelindungPembuatan Koloid1. Kondensasi2. Dispersia. Secara mekanikb. Secara peptisasic. Secara busur berdia berdigManfaat Koloid dalam Kehidupan Sehari-HariKategori Ilmu BiologiMateri IPA Sebenarnya Koloid Itu Apa, Sih? Koloid adalah jenis campuran heterogen yang berasal dari dispersi suatu zat ke dalam zat lain yang dicampurkan. Maka dari itu, kalau Grameds belajar tentang campuran yang satu ini, pasti akan menemukan istilah “fase terdispersi” dan “medium pendispersi”. Oke, ada istilah baru yang kamu tak tahu artinya apa. Tapi jangan menyerah dulu, pembahasan masih panjang. Fase terdispersi adalah zat yang menyebar secara merata di dalam zat yang lainnya. Lalu, medium pendispersi sendiri merupakan penyebab dari penyebaran secara merata pada fase terdispersi tadi. Biar lebih mudah dipahami, mari kita pakai contoh santan. Kamu tahu santan? Yup, cairan berwarna putih yang sering digunakan ibu untuk memasak. FYI aja, santan ternyata memiliki butiran minyak di dalam air. Butiran minyak tadi adalah zat yang menyebar fase terdispersi, sedangkan air menjadi penyebab penyebarannya medium pendispersi. Seperti yang sudah disebutkan di awal tadi, dalam kimia ada 3 jenis campuran. Pertama koloid, kedua larutan, dan ketiga suspensi. Nah apa bedanya antara ketiga jenis campuran ini? Mudahnya, koloid adalah campuran antara suspensi dan larutan. Berarti koloid bukan suspensi sekaligus bukan larutan. Karena berada di tengah-tengah, koloid termasuk ke dalam campuran yang metastabil alias bisa terpisah dalam waktu tertentu. Untuk lebih jelasnya, kamu bisa melihat tabel perbandingan antara larutan, suspensi, dan juga koloid di bawah ini Larutan Koloid Suspensi Tidak bisa disaring Bisa disaring tapi hanya dengan membran semipermeabel bisa disaring 1 fase 2 fase 2 fase stabil stabil Tidak stabil, antara zat pasti akan memisah. homogen heterogen heterogen Ukuran diameter partikel nya 10-5cm Untuk memahami lebih dalam tentang suspensi, larutan, dan koloid, Grameds bisa membaca buku Kimia Dasar Prinsip-Prinsip & Aplikasi Modern Edisi 9 Jilid 1 yang ditulis oleh Petrucci. Jenis-Jenis Koloid Koloid bisa dibagi menjadi 8 jenis berdasarkan perbedaan antara fase terdispersi dan medium pendispersinya. Simak penjelasan masing-masing jenisnya di bawah ini. 1. Sol Padat Sol padat mempunyai fase terdispersi dan medium pendispersi yang padat. Jenis koloid ini terbentuk karena adanya pengaruh suhu dan tekanan yang menghasilkan padatan kokoh serta keras. Salah satu contoh sol padat adalah kaca berwarna. 2. Sol Jenis koloid sol mempunyai fase terdispersi yang padat dalam medium pendispersi cair yang sifatnya tidak mudah berubah. Jadi, yang membedakan antara sol dengan sol padat adalah medium pendispersinya. Contoh dari sol adalah cat tembok. 3. Aerosol Padat Aerosol mempunyai fase terdispersi padat di dalam medium pendispersi gas. Misalnya, asap kendaraan. Grameds tentu pernah kelilipan saat ada motor atau mobil yang mengeluarkan asap cukup tebal, bukan? Nah, penyebab kelilipan tersebut adalah padatan fase terdispersi yang berada di dalam asap medium pendispersi. 4. Aerosol Aerosol merupakan jenis koloid yang mempunyai fase terdispersi cairan di dalam medium pendispersi gas. Jadi, yang membedakan aerosol dengan aerosol padat adalah fase terdispersinya. Dan aerosol sendiri tidak dapat bertahan lama. Contohnya seperti parfum yang wanginya bisa hilang dalam waktu tertentu. Ketika kamu menyemprotkan parfum ke udara, cairan parfumnya fase terdispersi akan tersebar di udara yang berwujud gas medium pendispersi. 5. Emulsi Padat Jenis koloid yang kelima adalah emulsi padat. Koloid ini memiliki fase terdispersi cairan dan medium pendispersi padat. Seperti agar agar yang merupakan campuran antara air fase terdispersi dengan bubuk agar agar medium pendispersi. Saat kamu memanaskan bubuk agar agar di air, serat dari agar agarnya akan bergerak dengan bebas kemudian merapat ketika didinginkan. In other words, air menyebar dalam partikel agar agarnya. 6. Emulsi Koloid yang fase terdispersi dan medium pendispersinya adalah cairan disebut dengan emulsi. Jenis ini umumnya tidak saling bercampur seperti susu. Penyebabnya karena ada perbedaan antara level kepolarannya. Dalam susu, partikel air dan susu punya level kepolaran yang berbeda, sehingga keduanya tidak bisa bercampur secara sempurna. Maka dari itu, susu termasuk ke dalam kategori koloid, bukan larutan. 7. Buih Padat Buih padat adalah jenis koloid dengan fase terdispersi gas dan medium pendispersinya padat. Misalnya seperti spons yang terlihat padat tapi saat dipencet ternyata hanya berisi udara. 8. Buih Jenis koloid yang kedelapan adalah buih yang fase terdispersinya berupa gas dan medium pendispersinya adalah cairan. Misalnya seperti buih sabun. Kalau diperhatikan, di dalam buih sabun ada udara fase terdispersi yang terjebak di dalam larutan sabun medium pendispersi, bukan? Sifat-Sifat Koloid Karena koloid adalah hasil dari campuran dua zat, maka dia jadi punya sifat sendiri yang berbeda dari pembentuknya, yaitu 1. Efek Tyndall Sifat pertama dari koloid adalah Efek Tyndall yang menyatakan bahwa partikel koloid dapat menghamburkan cahaya. Kalau kamu penasaran bagaimana maksudnya, coba ambil dua gelas. Gelas pertama isi dengan air, lalu gelas yang kedua isi dengan susu. Setelah itu, ambil hp kamu kemudian nyalakan flash-nya dan arahkan cahaya dari hp ke gelas pertama serta yang kedua. Lihat perbedaannya, harusnya cahaya yang diarahkan ke gelas pertama tidak akan bisa terlihat. Sedangkan di gelas yang kedua bisa terlihat jejaknya. Mengapa bisa begitu? Jawabannya karena cahaya yang diarahkan ke air yang merupakan larutan, kemudian diteruskan oleh air jadi tidak bisa dilihat. Namun, cahaya yang diarahkan ke susu koloid akan dihamburkan jadi jejaknya terlihat. 2. Gerak Brown Sekitar tahun 1827-an, Robert Brown yang berprofesi sebagai botanis, berhasil mengamati pergerakan partikel koloid. Menurut hasil pengamatannya, secara mikroskopis partikel koloid bergerak secara acak dengan jalur yang zig-zag ketika berada dalam medium pendispersi. Gerakan ini diakibatkan oleh tumbukan antara partikel koloid dengan medium pendispersi. 3. Adsorpsi Singkatnya, adsorpsi adalah sebutan untuk peristiwa menempelnya ion ke permukaan koloid karena partikel koloid memiliki kemampuan untuk menarik partikel-partikel yang kecil. Dan kemampuan ini muncul akibat tegangan permukaan koloid yang cukup tinggi. Menariknya, saat partikel koloid mengadsorpsi ion dengan muatan positif, maka koloidnya ikut bermuatan positif. Sebaliknya, jika yang diadsorpsi adalah ion bermuatan negatif, maka koloidnya jadi bermuatan negatif. Selain ion, partikel koloid juga bisa menyerap muatan listrik statis. Sifat adsorpsi bisa kamu temukan dalam kehidupan sehari-hari karena dimanfaatkan dalam beberapa hal. Seperti dalam pembuatan silika dan aluminium gel, masker polusi, pembuatan obat-obatan, masker gas arang, pemurnian air menggunakan tawas, atau jendela berkabut. Buat kamu yang penasaran bagaimana kimia dapat membantu dalam proses pembuatan obat, buku Kimia Medisinal Dasar-Dasar Dalam Perancangan Obat karya PROF. MUCHTARIDI, APT, Prof. Muchtaridi, Apt merupakan sumber belajar yang tepat. 4. Koagulasi Koloid Koagulasi koloid merupakan proses penggumpalan partikel koloid. Jika koloid bermuatan dihubungkan dengan muatan yang sama jenisnya maka mereka akan tolak menolak dan tidak menggumpal. Akan tetapi, jika muatan koloidnya dinetralkan, mereka tidak akan tolak menolak dan akan menyatu atau menggumpal sehingga terjadilah koagulasi. Dengan kata lain, koagulasi koloid hanya bisa terjadi jika koloid tidak memiliki muatan atau dinetralkan. Cara-cara yang biasa digunakan untuk menetralkannya adalah Mencampurkan koloid positif dan koloid negatif agar muatannya jadi saling menetralkan. Menambahkan larutan elektrolit pada koloid bermuatan negatif atau positif Misalnya seperti telur yang berubah menjadi menggumpal saat dipanaskan. Pembusukan, pendinginan, atau pengadukan. Contoh lain dari koagulasi koloid dalam kehidupan sehari-hari adalah susu basi yang berubah bentuknya jadi menggumpal. 5. Dialisis Sifat yang kelima, yaitu Dialisis, merupakan proses pemurnian koloid dari ion-ion yang mengganggunya. Caranya dengan menggunakan membran semipermeabel. Jadi saat air dialirkan ke koloid, koloid akan mendorong ion untuk keluar. Mengapa hanya ion yang keluar? Hal ini karena ukuran ion lebih kecil daripada membran semipermeabel sedangkan koloid ukurannya lebih besar. Jadi, ketika koloid bermuatan ion pengganggu melewati membran semipermeabel, ion pengganggunya akan terpisah. Sifat ini digunakan dalam proses cuci darah atau hemodialisis. 6. Elektroforesis Elektroforesis merupakan pergerakan partikel koloid di dalam medan listrik. Manfaat sifat ini biasanya digunakan pada proses pemisahan potongan gen dalam bioteknologi. Misalnya proses penyaringan debu pabrik di dalam cerobong asap. Selain itu, elektroforesis biasa diterapkan dalam identifikasi DNA atau dalam proses pendeteksian kelainan genetik. 7. Koloid Liofil dan Liofob Sifat liofil dan liofob biasanya ditemukan dalam koloid berjenis sol. Jadi bisa dibilang bahwa sol mempunyai dua jenis, yaitu sol liofil dan sol liofob. Sol liofil merupakan sol yang partikel zat terdispersinya mampu menarik medium terdispersinya karena di dalamnya terdapat ikatan hidrogen. Sifat sol liofil biasanya lebih kental, memiliki ukuran partikel yang besar, dan memiliki sifat gerak brown yang kecil. Sedangkan sol liofob merupakan sol yang partikel zat terdispersinya tidak mampu menarik medium pendispersinya sehingga tidak ada proses interaksi di dalamnya. Sifat sol liofob biasanya lebih encer daripada sol liodil. 8. Koloid Pelindung Karena sol liofil mempunyai sifat yang dapat menarik, maka dia biasa digunakan sebagai pelindung sol liofob agar tidak terjadi koagulasi meskipun di dalamnya ada larutan elektrolit. Contohnya seperti gelatin pada es krim yang membuat es krim tetap menyatu dan mempertahankan kekenyalannya. Selain itu, beberapa kegiatan manusia lain yang memanfaatkan sifat koloid pelindung adalah Menambahkan minyak silikon pada cat Menambahkan kasein pada susu Menambahkan lestin pada margarin Pembuatan Koloid Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, koloid bukan larutan dan bukan suspensi alias berada di tengah-tengah. Karena dia berada di tengah-tengah, maka koloid ini bisa diciptakan dari larutan dan suspensi. Proses pembuatan koloid sendiri biasanya dibagi menjadi dua, yaitu kondensasi dan dispersi. 1. Kondensasi Kondensasi merupakan proses pembuatan koloid larutan yang dalam prosesnya dibagi lagi menjadi dua, yaitu secara fisika dan secara kimia. Secara fisika, prosesnya dilakukan dengan mengubah pelarut. Sementara secara kimia melibatkan beberapa reaksi kimia seperti Reaksi redoks, reduksi, dan oksidasi Reaksi hidrolisis Reaksi substitusi atau reaksi dekomposisi rangkap 2. Dispersi Dispersi adalah kebalikan dari kondensasi, artinya ini merupakan proses pembuatan koloid dari suspensi. Proses ini mengubah partikel koloid yang besar menjadi partikel yang lebih kecil. Dalam proses pembuatan koloid yang dengan teknik dispersi, dibedakan menjadi tiga proses. Pertama secara mekanik, kedua secara peptisasi, dan ketiga secara busur berdia. a. Secara mekanik Pembuatan koloid secara mekanik biasa dilakukan dengan cara menggerus atau menumbuk agar partikel koloid jadi mengecil. Setelah itu, ditambahkan medium zat cair panas. Misalnya seperti sol belerang yang dibuat dengan cara menggerus serbuk belerang dengan zat inert mirip gula pasir lalu dicampurkan dengan air. b. Secara peptisasi Cara ini biasanya dilakukan dengan menambahkan ion yang satu jenis dengan suatu endapan. Misalnya agar agar yang dipeptisasi oleh air, karet dipeptisasi oleh bensin, lalu nitroselulosa dipeptisasi oleh aseton, dan yang lainnya. c. Secara busur berdia berdig Prinsip dari cara ini adalah dengan mengalirkan arus dengan tegangan tinggi pada dua buah elektroda. Elektroda ini merupakan logam dan harus dicelupkan pada air. Awalnya atom-atom logam akan terlempar ke dalam air. Setelah itu, atom-atom tersebut akan mengalami kondensasi dan menjadi partikel koloid. Dengan kata lain, cara ini adalah gabungan dari cara kondensasi dan cara dispersi. Manfaat Koloid dalam Kehidupan Sehari-Hari Setelah mengetahui apa itu koloid, jenis, sifat, dan cara pembuatan koloid, Grameds tentu penasaran apa manfaat koloid dalam kehidupan sehari-hari. Sebab meskipun istilahnya jarang sekali digunakan, namun manfaatnya sangat erat dengan kehidupan manusia. Contohnya seperti Dalam industri kosmetik, koloid biasanya digunakan untuk membuat sampo, deodoran, foundation, pembersih wajah, serta pelembab badan. Dalam industri tekstil, koloid sol biasa dimanfaatkan untuk mewarnai pakaian Dalam industri farmasi, koloid digunakan dalam proses membuat obat-obatan Dalam industri sabut, koloid sangat bermanfaat untuk menghasilkan sabun atau detergen. Dalam industri makanan, koloid bermanfaat untuk membuat kecap, susu, mayones, mentega, dan saus. Dalam dunia kesehatan, koloid bisa digunakan untuk mengidentifikasi DNA, atau proses cuci darah. Di sekolah, koloid biasanya diajarkan untuk siswa kelas 11. Buat kamu yang baru naik ke kelas 11, sebaiknya jadikan buku Sma/Ma Kls XI Penuntun Belajar Kimia Teori & 1551 Soal karangan Budiman Anwar sebagai sumber pelajaran tambahan untuk melengkapi materi yang kamu terima di kelas nanti. Materi pada bab di buku ini dibuat sangat lengkap agar bisa digunakan sebagai sumber rujukan siswa dalam mengembangkan pengetahuan dan pemahamannya terhadap konsep-konsep kimia secara mandiri serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Demikian pembahasan tentang koloid mulai dari pengertian hingga cara pembuatan koloid. Semoga semua pembahasan artikel di atas bisa bermanfaat untuk Grameds. Jika ingin mencari buku tentang kimia, kamu bisa menemukannya di Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi LebihDenganMembaca. Penulis Gilang BACA JUGA ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah." Custom log Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda Tersedia dalam platform Android dan IOS Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis Laporan statistik lengkap Aplikasi aman, praktis, dan efisien Membuat Es Krim Dengan Cara Sistem Koloid Es krim adalah buih setengah beku yang mengandung lemak teremulsi dan udara. Sel-sel udara yang ada berperanan untuk memberikan texture lembut pada es krim tersebut. Tanpa adanya udara, emulsi beku tersebut akan menjadi terlalu dingin dan terlalu berlemak. Es krim tidak lain berupa busa gas yang terdispersi dalam cairan yang diawetkan dengan pendinginan. Walaupun es krim tampak sebagai wujud yang padu, bila dilihat dengan mikroskop akan tampak ada lima komponen penyusun, yaitu krim, skim, air, gula, dan stabilizer. Kadar air dalam es krim antara 60-62%, jika air terlalu banyak maka es krim menjadi kasar, jika air terlalu sedikit maka es krim akan menjadi terlalu padat. Untuk bisa creamy, 60-62% itu sudah ukuran yang teruji. Dengan demikian maka kadar bahan kering adalah 38-40%. Es krim dengan kandungan udara lebih banyak akan terasa lebih cair dan lebih hangat sehingga tidak enak dimakan. Bahan penstabil dalam pembuatan es krim merupakan koloid hidrofilik yang dapat menurunkan konsentrasi air bebas dengan menyerap air tersebut sehingga akan mengurangi kristalisasi es, memperkecil kristal es, dan dapat meningkatkan kehalusan tekstur. Jenis-jenis penstabil yang biasa digunakan dalam frozen dessert terbagi menjadi beberapa kategori yaitu a protein misalnya gelatin, b plant exudates misalnya arabic, ghatti, karaya, dan tragacant ums, c sed gums misalnya locust carob bean, guar, dan psyllium, d microbial gums misalnya xanthan, e seaweed extract misalnya agar, alginat, dan karagenan, f pectin misalnya low dan high methoxyl, g selulosa misalnya Carboxy Methyl Cellulose CMC, dan lain-lain. Membuat ice cream menggunakan metode kondensasi Pembuatan koloid sol dengan metode ini pada umumnya dilakukan dengan cara kimia dekomposisi rangkap, hidrolisis, dan redoks atau dengan penggatian pelarut. Cara kimia tersebut bekerja dengan menggabungkan partikel-partikel larutan atom, ion, atau molekul menjadi pertikel-partikel berukuran dan kandungan es krim Es krim tidak lain berupa busa gas yang terdispersi dalam cairan yang diawetkan dengan pendinginan. Walaupun es krim tampak sebagai wujud yang padu, bila dilihat dengan mikroskop akan tampak ada empat komponen penyusun, yaitu padatan globula lemak susu, udara yang ukurannya tidak lebih besar dari 0,1 mm, kristal-kristal kecil es, dan air yang melarutkan gula, garam, dan protein susu Gambar 1. Berbagai standar produk makanan di dunia membolehkan penggelembungan campuran es krim dengan udara sampai volumenya menjadi dua kalinya disebut dengan maksimum 100 persen overrun. Es krim dengan kandungan udara lebih banyak akan terasa lebih cair dan lebih hangat sehingga tidak enak dimakan. Bila kandungan lemak susu terlalu rendah, akan membuat es lebih besar dan teksturnya lebih kasar serta terasa lebih dingin. Emulsifier dan stabilisator dapat menutupi sifat-sifat buruk yang diakibatkan kurangnya lemak susu dan dapat memberi rasa lengket. Peran emulsifier Metode sederhana pengadukan dan pendinginan secara serempak ini ternyata menimbulkan masalah lain. Krim pada dasarnya terdiri atas globula kecil lemak yang tersuspensi dalam air. Globula-globula ini tidak saling bergabung sebab masing-masing dikelilingi membran protein yang menarik air, dan airnya membuat masing-masing globula tetap menjauh. Pengadukan akan merusak membran protein yang membuat globula lemak tadi kemudian dapat saling mendekat. Akibatnya, krim akan naik ke permukaan. Hal seperti ini diinginkan bila yang akan dibuat adalah mentega atau minyak, tetapi jelas tidak diinginkan bila yang akan dibuat es krim. Penyelesaian sederhananya adalah dengan menambahkan emulsifier pada campuran. Molekul emulsifier akan menggantikan membran protein, satu ujung molekulnya akan melarut di air, sedangkan ujung satunya akan melarut di lemak. Lecitin, molekul yang terdapat dalam kuning telur, adalah contoh emulsifier sederhana. Oleh karena itu, salah satu bahan pembuat es krim adalah kuning telur. Selain itu, dapat digunakan mono- atau di-gliserida atau polisorbat yang dapat mendispersikan globula lemak dengan lebih efektif. 2. Tujuan l Mengaplikasikan prinsip koloid dalam pembuatan es krim l Mengetahui cara membuat es krim dengan cara yang sederhana 3. Bahan • 500 cc susu segar • 200 gr gula pasir • 2 buah avokad yg sedang besarnya • 20 gr maizena, larutkan dengan sedikit air • 2 sdt kopi instan, cairkan dengan 3 sdm air panas Cara kerja Air susu dan vanili dipanaskan di atas api sampai mendidih. Sementara itu, telur ayam dikocok dengan gula sampai putih berbusa, lalu tuangi satu cangkir air susu panas terus diaduk sampai homogen. Campuran pada 2 kemudian dituangkan dalam sisa susu yang masih panas, terus diletakkan di atas api sambil diaduk-aduk sampai menjadi adonan yang kental, lalu lekas diangkat dari api, jangan ditunggu hingga mendidih. Adonan yang telah diangkat dari api, kalau perlu ditambah zat warna kuning, lalu biarkan dingin sambil kadang-kadang diaduk. Adonan es yang telah dingin dimasukkan dalam tempat yang terbuat dari aluminium, lalu dimasukkan dalam freezer pendingin, kemudian lemari es ditutup. Tiap setengah jam adonan es harus diaduk merata supaya esnya tidak kasar, kalau ada mixer, adonan yang mulai mengental diaduk dengan mixer sampai merata, kemudian dimasukkan lagi dalam freezer. KI. Pengertian Sistem Dispers Dan Sistem Koloid Sistem dispersi adalah system yang terdiri atas dua komponen, yaitu fase terdispersi tersebar dan fase pendispersi penyebar. Sedangkan system koloid adalah system dispers yang bersifat antara homogen dan heterogen. 1. Dispersi kasar suspensi partikel zat yang didispersikan berukuran lebih besar dari 100 nm. 3. Dispersi koloid partikel zat yang didispersikan berukuran antara 1 nm – 100 nm. 3. Dispersi molekuler larutan sejati partikel zat yang didispersikan berukuran lebih kecil dari 1 nm. Komponen-Komponen Koloid Sistem koloid pada hakekatnya terdiri atas dua fase, yaitu fase terdispersi dan medium berbedanya hanya ukuran fase terdispersinya. Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan disebut medium pendispersi. Perbedaan antara Larutan sejati, Sistem Koloid dan Suspensi Larutan Sejati Sistem Koloid Suspensi 1. ukuran partikel > 1 nm Ukuran partikel antara 1 nm – 100 nm Ukuran partikel < 100 nm 2. satu fase dua fase dua fase 3. jernih agak keruh keruh 4. homogen antara homogen dan heterogen heterogen 5. tidak dapat disaring Tidak dapat disaring Dapat disaring 6. tidak mengendap Tidak mengendap mengendap 7. stabil stabil tidak stabil 8. amikron, dapat dilihat dengan mikroskop elektron submikoron, dapat dilihat dengan mikroskop ultra micron,dapat dilihat dengan mikroslop biasa 2. JENIS-JENIS KOLOID Sistem koloid digolongkan berdasarkan pada jenis fase terdispersi dan medium pendispersinya. – koloid yang mengandung fase terdispersi padat disebut sol. – koloid yang mengandung fase terdispersi cair disebut emulsi. – koloid yang mengandung fase terdispersi gas disebut buih. Tabel Macam-macam sistem koloid berdasarkan fase terdispersi dan medium pendispersinya Fase Terdispersi Medium Pendispersi Nama Koloid Contoh gas cair Busa, buih Krim, busa sabun gas padat Busa padat Batu apung, karet busa cair gas Aerosol cair Kabut, awan cair cair emulsi Susu, scot emulsion cair padat Emulsi padat Keju, mentega padat gas Aerosol padat Asap, abu padat cair sol Cat, kanji, tinta padat padat Sol padat Intan, kaca berwarna, paduan logam 3. Sifat-Sifat Koloid Sifat-sifat khas koloid meliputi a. Efek Tyndall Efek Tyndall adalah efek penghamburan cahaya oleh partikel koloid. Efek Tyndall dapat digunakan untuk membedakan larutan sejati dengan system koloid. b. Gerak Brown Gerak Brown adalah gerak acak, gerak tidak beraturan dari partikel koloid. Gerak Brown hanya dapat diamati dengan mikroskop. Gerak Brown menunjukkan bahwa partikel-partikel koloid mempunyai energi kinetic. Gerak Brown c. Adsorbsi Beberapa partikel koloid mempunyai sifat adsorbsi penyerapan terhadap partikel atau ion atau senyawa yang lain. Penyerapan pada permukaan ini disebut adsorbsi harus dibedakan dari absorbsi yang artinya penyerapan sampai ke bawah permukaan. Contoh i Koloid FeOH3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+. ii Koloid As2S3 bermuatan negatit karena permukaannya menyerap ion S-2 Koloid FeOH3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+ Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S2- d. Koagulasi Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan. koagulan e. Elektroforesis Elektroferesis adalah peristiwa pergerakan partikel koloid yang bermuatan ke salah satu elektroda. Elektrotoresis dapat digunakan untuk mendeteksi muatan partikel partikel koloid berkumpul di elektroda positif berarti koloid bermuatan negatif dan jika partikel koloid berkumpul di elektroda negatif berarti koloid bermuatan positif. Prinsip elektroforesis digunakan untuk membersihkan asap dalam suatu industri dengan alat Cottrell. Elektroforesis f. Dialisis Dialisis adalah proses pemurnian partikel koloid dari muatan-muatan yang menempel pada permukaannya. Pada proses dialisis ini digunakan selaput semifermeabel. dialisis g. Koloid Liofil dan Koloid Liofob Koloid ini terjadi pada sol yaitu fase terdispersinya padatan dan medium pendispersinya cairan. Koloid Liofil sistem koloid yang affinitas fase terdispersinya besar terhadap medium pendispersinya. Contoh sol kanji, agar-agar, lem, cat Koloid Liofob sistem koloid yang affinitas fase terdispersinya kecil terhadap medium pendispersinya. Contoh sol belerang, sol emas. 4. Krim Dan Gel Krim system koloid emulsi dalam bentuk setengah padat. Misalnya; es krim , krim pembersih, dan lain-lain. Gel system koloid sol dalam bentuk setengah padat. Misalnya; agar-agar, nutrigel, dan lain-lain. 5. Penggunaan Koloid Kegunaan koloid antara lain 1. Dalam bidang restoran untuk pengolahan atau sebagai bahan makanan misalnya; agar- agar, es krim susu, sirop, kecap, dan lain-lain. 2. Dalam bidang kecantikan untuk tata arias wajah, rambut dan kulit, misalnya; hair spray, parfum spray, krim bath, krim pembersih wajah, dan lain-lain. 3. Dalam bidang tata busana, misalnya; sabun cuci, pengharum pakaian, pelembut pakaian, pewarna tekstil, dan lain-lain. 4. Dalam bidang industri,misalnya; untuk memutihkan gula, menghilangkan bau pada minyak goreng, mengendapkan karet , membuat sarung tangan , dan lain-lain. 6. Pembuatan Koloid 1. Cara Kondensasi Cara kondensasi termasuk cara kimia. kondensasi Prinsip Partikel Molekular ————–► Partikel Koloid Reaksi kimia untuk menghasilkan koloid meliputi 1. Reaksi Redoks 2 H2Sg + SO2aq à 3 Ss + 2 H2Ol 2. Reaksi Hidrolisis FeCl3aq + 3 H2Ol à FeOH3s + 3 HClaq 3. Reaksi Substitusi 2 H3AsO3aq + 3 H2Sg à As2S3s + 6 H2Ol 4. ReaksiPenggaraman Beberapa sol garam yang sukar larut seperti AgCl, AgBr, PbI2, BaSO4 dapat membentuk partikel koloid dengan pereaksi yang encer. AgNO3aq encer + NaClaq encerà AgCls + NaNO3aq encer 2. Cara Dispersi Prinsip Partikel Besar à Partikel Koloid Cara dispersi dapat dilakukan dengan cara mekanik atau cara kimia 1. Cara Mekanik Cara ini dilakukan dari gumpalan partikel yang besar kemudian dihaluskan dengan cara penggerusan atau penggilingan. 2. Cara Busur Bredig Cara ini digunakan untak membuat sol-sol logam. 3. Cara Peptisasi Cara peptisasi adalah pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi pemecah. Contoh – Agar-agar dipeptisasi oleh air ; karet oleh bensin. – Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S ; endapan AlOH3 oleh AlCl3 KESIMPULAN Sistem koloid mengandung dua komponen yaitu fase terdispersi dan medium pendispersi .Jenis koloid ditentukan oleh fase terdispersi dan medium pendis – persinya. Untuk membuat system koloid dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu konden- sasi dan dispersi. Emulsi dalam bentuk setengah pada t disebut krim dan sol dalam bentuk setengah padat disebut gel. LATIHAN SOAL Jawablah pertanyaan berikut dengan benar! Apa yang dimaksud dengan system koloid? Sebutkan perbedaan antara larutan sejati, koloid dan suspensi! Bagaimana cara membedakan antara larutan sejati dengan system kolid? Sebutkan fase terdispersi dan medium pendispersi dari system kolid berikut asap b. Parfum spray c. kabut es krim e. jelly f. kecap Bagaimana cara membedakan antara system koloid dengan suspensi? Sebutkan 2 contoh system koloid yang banyak digunakan dalam bidang keahlian anda! Bagaimana cara mengetahui bahwa partikel koloid bermuatan listrik? Apa yang menyebabkan partikel koloid mengalami koagulasi? Apa bedanya krim dan gel? Bagaimana cara membuat krim dan gel? Diskusikan Campuran tepung tapioka dan air dapat membentuk suspensi dan juga dapat membentuk sistem koloid sol. Bagaimana cara membuat sistem kolid sol dari tepung tapioka dan air? Diskusikan jawaban anda dengan teman-teman anda!

cara membuat es krim dengan sistem koloid