Tantanganutama guru pada masa kini tidak lebih pada mengatasi dampak teknologi dan globalisasi yang sangat pesat. Dampak dari perkembangan teknologi tidak hanya berimbas pada ilmu pengetahuan saja, namun lebih jauh teknologi juga memengaruhi sosial budaya seseorang. Menjadi guru yang ideal di era digital seperti sekarang tentu tidak mudah Terkaitdengan tema Guru di Era Digital, bisa dikatakan bahwa siswa yang berupaya untuk menciptakan pengetahuan baru dalam proses konstruksi, membutuhkan daya dukung yang kuat untuk bisa berkreasi dengan maksimal. Daya dukung itu adalah lingkungan belajar, media, termasuk media digital, sumber belajar, termasuk sumber-sumber informasi di internet. Gurusebagai ujung tombak di sekolah pada era ini dan era selanjutnya ditantang untuk melakukan akselerasi terhadap perkembangan TIK yang dapat mengubah infromasi baik yang tadinya berwujud tulisan, gambar, maupun suara menjadi wujud kumpulan lambang bilangan 0 dan 1, yang sering disebut digital. Dalam bentuk baru semacam ini informasi tersebut Perkembanganteknologi ini, menjadi tantangan bagi guru. Tantangan tersebut antara lain yang pertama, berpikir kritis. Yaitu mampu menerima berbagai data dan informasi yang begitu cepat, mampu membimbing siswa memecahkan masalah yang sedang dihadapi dan mengadirkan solusi dengan mendiskusikannya. SumberIlustrasi: PAXELS. Tantangan Guru Dalam Digitalisasi Pembelajaran. Tahun ajaran baru 2021/2022 akan segera di mulai. Persiapan dan strategi menyambut tahun ajaran baru pun seharusnya sudah mulai tersusun secara matang. Persiapan yang matang tentu akan berimbas pada sebuah kualitas pendidikan dalam menghadapi segala kemungkinan yang akan Banyaksiswa dan guru berpenghasilan rendah tidak memiliki perangkat digital atau keterampilan yang diperlukan untuk pembelajaran berbasis digital atau online ini. Menurut data dari UNICEF, pada tahun 2020, sebanyak 67% guru melaporkan kesulitan dalam mengoperasikan perangkat dan menggunakan online platform dalam proses pembelajaran. RMxdYA. Peran guru dalam pembelajaran era digital ada tujuh yakni a guru sebagai sumber belajar; peran guru sebagai sumber belajar berkaitan dengan kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran. b guru sebagai fasilitator; peran guru sebagai fasilitator dalam memberikan pelayanan kepada siswa untuk dapat memudahkan siswa menerima materi pelajaran. c guru sebagai pengelola; dalam proses pembelajaran, guru berperan untuk memegang kendali penuh atas iklim dalam suasana pembelajaran; d guru sebagai demonstrator; berperan sebagai demonstrator maksudnya disini bukanlah turun ke jalan untuk berdemo. Guru itu sebagai sosok yang berperan untuk menunjukkan sikap-sikap yang akan menginspirasi siswa untuk melakukan hal yang sama, bahkan lebih baik; e guru sebagai pembimbing; perannya sebagai seorang pembimbing, guru diminta untuk dapat mengarahkan kepada siswa untuk menjadi seperti yang diinginkannya; f guru sebagai motivator; proses pembelajaran akan berhasil jika siswa memiliki motivasi didalam dirinya; g guru sebagai elevator; guru haruslah mengevaluasi semua hasil yang telah dilakukan selama proses guru di era digital; guru sampai sekarang masih banyak memakai produk 80-an, sementara muridnya sudah memakai produk kontemporer. Akibatnya, para murid berbeda secara radikal dengan para guru, karena banyak terjadi ketidaknyambungan di sana-sini. Kita tahu bahwa murid sekarang tidak lagi cocok dengan sistem pendidikan abad 20. Namun, praksis di lapangan para guru masih tidak memahami hal ini. Banyak guru kita yang lambat mengejar laju modernisasi pendidikan. Yang terjadi kemudian adalah murid sudah mampu menerima informasi secara cepat dari berbagai sumber multimedia, sementara banyak guru acapkali memberikan informasi dengan lambat dan dari sumber-sumber terbatas. To read the full-text of this research, you can request a copy directly from the author.... The rapid development of the education system in Indonesia has led to greater challenges in the 21st-century educators face. According to Latif 2020 teachers as professional educators must be able to adapt to changing times. Teachers are expected to be able to facilitate 21st-century skills; 1 learning and innovation skills which include critical thinking skills and problem-solving, communication, and collaboration, as well as creativity and innovation. ...Frisca AmediaRosnah ZakariaBambang SubaliEllianawati EllianawatiThis study aims to discover the characteristics of Animaker-based animated video, explore opportunities, measure feasibility and effectiveness, and analyze students’ responses to Animaker-based animated video and quiz team activities in improving the static fluid concept’s mastery. The method used in this research is R&D with the ADDIE development model. The result of this research shows that Animaker-based animated video and quiz team activities have the opportunity to improve the mastery of static fluid concepts. The characteristics of Animaker-based animated video media are shown in each part of the video, such as a teacher’s animation, process illustration, case study, practice questions, and simulation examples. The average validation score from three media experts is meaning the Animaker-based animated video is highly feasible. Animaker-based animated video media and team activities quizzes effectively improve the mastery of static fluid concepts. Student responses get a percentage of 82% in the very good category.... Di sisi lain, Indonesia banyak sekali yang harus dibenahi terkait dalam bidang pendidikan. Salah satu yang harus dibenahi yaitu cara mengajar guru, seringkali dijumpai cara mengajar didominasi oleh guru dan guru aktif sekali dalam menjadi subjek pembelajaran Latif, 2020. Hal ini akan berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik. ...Mantiko Parbo Maulana Febrian SolikhinKrisna DewiTujuan penelitian ini adalah meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik pada materi kesetimbangan kimia di SMA N 3 Kota Bengkulu. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas PTK yang terdiri tiga siklus. Penelitian ini dilakukan di kelas XI MIPA 5. Instrumen yang digunakan adalah instrumen observasi, dan tes kognitif. Berdasarkan hasil pengamatan dari siklus I, siklus II, dan siklus III terjadinya kenaikan persentase aktivitas peserta didik dan ketuntasan peserta didik. Secara berturut-turut persentase aktivitas peserta didik adalah 32,37%, 55,25%, dan 84,76%. Sedangkan persentase ketuntasan hasil belajar peserta didik secara berturut-turut adalah 17%, 31,4% dan 82,8%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran problem based learning berhasil meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik. Hal ini terlihat dari persentase aktivitas dan ketuntasan hasil belajar sudah meningkat dan lebih dari 75%.Azhar KholifahPerkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat memberikan dampak yang besar terhadap kehidupan manusia pada umumnya dan khususnya dalam pendidikan. Kondisi ini sering disebut dengan Era digital. Era digital diartikan dengan kondisi dimana segala sesuatunya digantungkan pada internet yang mendominasi secara masif mulai dari sektor ekonomi, kesenian, olahraga, pemerintahan, sosial, pendidikan, dan sebagainya. Hadirnya era digital ini, merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh siapapun dan oleh pihak manapun, begitu halnya oleh pendidikan Islam sendiri. Pendidikan islam yang selama ini dianggap merupakan pendidikan yang ideal dengan sistem perpaduan keseimbangannya antara urusan dunia dan akhirat, pun butuh dan harus berupaya menghadirkan perangkat digital dalam sistem pendidikannya sebagai tujuan dan upaya dalam membentuk generasi yang berketrampilan, mampu menguasai ilmu praktis sebagai bekal kehidupan dimasa mendatang, tentunya tanpa meninggalkan nilai-nilai keislamannya. Pendidikan Islam diharapkan mampu mengakomodir era digital untuk meneguhkan keeksitensiannya sekaligus menjadi cerminan pendidikan yang memiliki kualitas dan kuantitas dalam tatanan global. Situasi ini tentu memerlukan upaya-upaya strategis untuk mengkonfersi peluang guna menentukan strategi yang tepat dan sesuai mulai dari perencenaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, sampai pada evaluasi dan dengan keterlibatan komponen-komponen seperti tujuan, sumberdaya manusia, kurikulum, lingkungan, dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi-strategi atau siasat apa saja atau bagaimana upaya yang dilakukan oleh pondok pesantren kaitannya dalam menghadapi sekaligus menjawab tantangan sosial digital, dengan mengambil tempat pada lembaga pendidikan pondok pesantren Al-Islam Joresan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pendekatan fenomenologi digunakan untuk mengungkap atau mengetahui fenomena sosial yang terjadi pada masyarakat, fenomena perkembangan zaman, dan khususnya untuk mengungkap strategi pendidikan pesantren dalam menjawab tantangan sosial di era digital. Kemudian dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan mulai dari literasi digital, kemudian program ekstrakurikuler, dilanjutkan dengan keorganisasian, upgrading guru dan amaliyatu tadris menunjukkan adanya interkoneksi atau kesinambungan sebagai upaya pondok pesantren dalam menghadapi era sosial digital. Kata Kunci Pendidikan, Pesantren, Era DigitalMarsuki MarsukiAndi SaifulInce Abdul MuhaeminIlham IlhamPembelajaran berbasis online menjadi tren baru seiring dengan merebaknya pandemic Covid-19. Kesenjangan digital mulai dari akses internet hingga penguasaan teknologi gagap teknologi menjadi permasalahan tersendiri dalam proses penerapan pembelajaran online. Olehnya itu, penting untuk dilakukan pelatihan pemanfaatan fasilitas google dalam proses pembelajaran. Mengingat google menawarkan beragam fitur yang dapat dimanfaatkan dalam menunjang proses pembelajaran. Pada pelaksanaan kegiatan pelatihan ini difokuskan kepada guru Penjas di Kota Jayapura dengan menerapkan metode Participatory Rural Appraisal PRA yang dibagi dalam 3 tiga tahapan; persiapan, pelaksanaan dan refleksi. Peningkatan keterampilan para peserta dalam menggunakan fitur google menjadi tujuan akhir dalam kegiatan pelatihan tersebut. Termasuk memberikan motivasi kepada peserta dalam meningkatkan kompetensi literasi digital. Dengan kompetensi literasi digital digital literacy yang dimiliki oleh guru akan berpangkal terhadap peningkatkan kualitas pembelajaran di tengah perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi TIK yang demikian has not been able to resolve any references for this publication. Pendahuluan Revolusi industri gelombang keempat adalah tren terbaru teknologi yang sedemikian rupa canggihnya, yang berpengaruh besar terhadap proses produksi pada sektor manufaktur. Teknologi canggih tersebut termasuk di dalamnya adalah kecerdasan buatan, perdagangan elektronik, big data, teknologi finansial, ekonomi berbagi, hingga penggunaan robot. Era macam inilah yang sedang kita hadapi dan diperbincangkan yang kita kenal dengan era industri Digitalisasi sudah mengkontaminasi semua aspek klehidupan sekarang ini, asset atau kekayaan seseorang tidak harus dalam bentuk asset riil karena sekarang sudang ada asset digital misalnya uang digital, kepemilikan saham digital dan lainnya, saat ini, kita sedang berada di era di mana perusahaan ojek, tidak mempunyai kendaraan. Toko baju, elektronik, dan sebagainya, tetapi sebagai penjual tidak perlu mempunyai atau stok barang-barang tersebut. Modal dan biaya produksi di era informasi sudah berubah. Artinya, orang kaya saat ini bisa dimiliki oleh orang yang hanya perlu sedikit lahan, sedikit tenaga kerja, dan juga modal biaya yang juga sedikit. Era inilah yang disebut sebagai era digital atau era informasi. Era yang memunculkan pemuda enterpreuner seperti Nadiem Makarim, CEO Gojek, Ahmad Zaky, CEO Bukalapak, Abdul Wahab CEO Santri Online, Adamas Belva Syah Devara CEO Ruang Guru yang didirikan tahun 2014 dan menjadi startup teknologi dengan misi pendidikan dan lain sebagainya. Era ini akrab dengan penghuninya, yaitu generasi milenial. Di tangan Milenial, dunia berubah dari tangan Mark Zuckerberg, Facebook lahir dan menjelma menjadi salah satu media sosial terbesar paling berpengaruh yang pernah ada. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Digitalisasi Guru Tantangan Ngajar di Era MilenialUjang SuhermanUniversitas Pendidikan IndonesiaPendahuluan Revolusi industri gelombang keempat adalah tren terbaru teknologi yangsedemikian rupa canggihnya, yang berpengaruh besar terhadap proses produksi padasektor manufaktur. Teknologi canggih tersebut termasuk di dalamnya adalahkecerdasan buatan, perdagangan elektronik, big data, teknologi finansial, ekonomiberbagi, hingga penggunaan robot. Era macam inilah yang sedang kita hadapi dandiperbincangkan yang kita kenal dengan era industri sudah mengkontaminasi semua aspek klehidupan sekarang ini, assetatau kekayaan seseorang tidak harus dalam bentuk asset riil karena sekarang sudangada asset digital misalnya uang digital, kepemilikan saham digital dan lainnya, saat ini,kita sedang berada di era di mana perusahaan ojek, tidak mempunyai kendaraan. Tokobaju, elektronik, dan sebagainya, tetapi sebagai penjual tidak perlu mempunyai ataustok barang-barang tersebut. Modal dan biaya produksi di era informasi sudah orang kaya saat ini bisa dimiliki oleh orang yang hanya perlu sedikit lahan,sedikit tenaga kerja, dan juga modal biaya yang juga sedikit. Era inilah yang disebutsebagai era digital atau era informasi. Era yang memunculkan pemuda enterpreunerseperti Nadiem Makarim, CEO Gojek, Ahmad Zaky, CEO Bukalapak, Abdul WahabCEO Santri Online, Adamas Belva Syah Devara CEO Ruang Guru yang didirikan tahun2014 dan menjadi startup teknologi dengan misi pendidikan dan lain sebagainya. Era iniakrab dengan penghuninya, yaitu generasi milenial. Di tangan Milenial, dunia berubahdari tangan Mark Zuckerberg, Facebook lahir dan menjelma menjadi salah satu mediasosial terbesar paling berpengaruh yang pernah dikutip dari artikel Tirto, Generasi Milenial, yang juga punya nama lainGenerasi Y, adalah kelompok manusia yang lahir di atas tahun 1980-an hingga Hasanuddin Ali dan Lilik Purwandi 2017 dalam bukunya Millennial Nusantaramenyebutkan bahwa Generasi milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1982 sampai dengan tahun 2002. Sementara para peneliti sosial dalam negeri lainnyamenggunakan tahun lahir mulai 1980-an sampai dengan tahun 2000-an untukmenentukan generasi milenial Mengenal Generasi Milenial, 2015.Generasi milenial adalah generasi yang pernah melewati milenium kedua sejakteori generasi ini diembuskan pertama kali oleh Karl Mannheim pada 1923. Dalam esaiberjudul The Problem of Generation, sosiolog Mannheim memperkenalkan teorinyatentang generasi. Menurutnya, manusia-manusia di dunia ini akan saling memengaruhidan membentuk karakter yang sama karena melewati masa sosio-sejarah yang manusia-manusia zaman Perang Dunia II dan manusia pasca-PD II pastimemiliki karakter yang berbeda, meski saling memengaruhi. Berdasarkan teori itu, parasosiolog—yang bias Amerika Serikat—membagi manusia menjadi sejumlah generasiGenerasi Era Depresi, Generasi Perang Dunia II, Generasi Pasca-PD II, Generasi BabyBoomer I, Generasi Baby Boomer II, Generasi X, Generasi Y alias Milenial, laluGenerasi sosial-cum-demograf Mark McCrindle dari grup peneliti McCrindle adalahorang pertama yang membuka topik ini tentang nama generasi yang lahir di abad makalah Beyond Z Meet Generation Alpha, ia mengungkapkan, generasiberikutnya akan dinamai sesuai abjad. Itu sebabnya mereka yang lahir setelahGenerasi Z akan dipanggil Generasi A alias Generasi Alfa. Tahun kelahirannya dimulaidari 2010. Menurut McCrindle, Generasi Alfa—yakni anak-anak dari Generasi Milenial—akan menjadi generasi paling banyak di antara yang pernah ada. Sekitar 2,5 jutaGenerasi Alfa lahir setiap minggu. Membuat jumlahnya akan bengkak menjadi sekitar 2miliar pada 2025. Generasi ini juga akrab disebut dengan istilah Google KidsTiga generasi ini – Generasi Y atau Milenial, Generasi Z atau Digital Native, danGenerasi Alfa atau Google Kids- yang secara serius sedang menghadapi era revolusidigital. Karakter generasi ini memiliki kecenderungan jauh lebih tinggi terhadapteknologi dari generasi sebelumnya. Bisa dikatakan, teknologi menjadi sebuahketergantungan. Lalu, apakah masyarakat kita sudah siap menyambut hal itu?Pertanyaan itu sudah selayaknya dilayangkan kepada pendidikan. PembahasanGuru VS Digitalisasi GuruSekolah adalah pintu terdepan menuju kehidupan bermasyarakat dalam proses pembelajaran membawa dampak padakeberhasilan dalam kehidupan nyata, ungkapan itu sering kita dengar dari seorangguru. Namun, realitasnya disparitas antara Generasi X dengan tiga generasisesudahnya masih muncul jurang pemisah. Guru yang didominasi oleh generasisebelum milenial masih meyakini bahwa hal-hal yang pernah mereka dapatkan di masapendidikannya dahulu bisa menjadikan mereka sebagai orang yang berhasil. Asumsiyang melekat seperti itu membuat pola berpikir lingkungan sekolah terpenjara olehteknologi itu sendiri, sedangkan sekolah seharusnya menjadi miniatur masyarakatdengan segala macam bentuknya. Padahal, sahabat Ali bin Abi Thalib RA pernahberpesan “Wahai kaum muslimin, didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannyakarena mereka hidup bukan di zamanmu”.Sekolah sudah harus siap menyambut kedatangan revolusi digital. Pembelajarandalam era digital, dimana seorang guru membuat rekaman pembelajaran tentang babyang akan dibahas kemudian di bagikan di media sosial atau internet, pembelajarantutorial, bahkan sampai ada situs yang khusus memberikan pembelajaran melaluionline seperti ruang siswa dapat menyimak pembelajaran tanpa harus terikatoleh waktu dan lama pembelajaran bisa ditentukan oleh siswa, ini sebuah contohtentang inovasi model pembelajaran. Dan ternyata cara inovasi pembelajaran melalui internet menjadi fenomena yangtersendiri dalam pengembangan pembelajaran karena siswa dapat belajar sesuaidengan yang di inginkannya dan teknik penyampaiannya bisa lebih lugas dan gamblangserta mudah dimengerti oleh siswa. Fenomena ini, kiranya menjadi tantangan bagiguru. Guru yang tidak adaptif terhadap perkembangan teknologi dan globalisasiinformasi akan merasa kesulitan dalam melakukan pembelajaran di era sekarangterlebih guru yang mengajar siswa di generasi internet atau di generasi alpha yangmemiliki kecerdasan melebihi kecerdasan generasi terdahulu. Mungkinkah guru akandigantikan oleh teknologi ? Jika guru tidak mempersiapkan kedatangan revolusi digital itu, bukan hanyadikalahkan oleh teknologi, guru juga akan dikalahkan oleh anak didiknya. Lihatlahkedekatan generasi Z dan Alpha dengan teknologi. Dari sejak dalam kandungan,mereka sudah akrab dengan kamera ibu yang hobi swafoto. Bahkan, ketika anakmereka lahir, anak-anak itu sudah dibuatkan akun media sosial untuk menyimpan foto-foto dan beberapa hal lainnya. Hasilnya, fenomena kecanduan gawai sudah tidak asinglagi. Anak-anak lebih memilih curhat dengan media sosialnya daripada dengan orangtuanya. Bahkan, anak-anak lebih mendengarkan gawai daripada omongan yang muncul, bagaimana seorang guru bersikap dalam menghadapiera digital seperti saat ini? Guru dan institusi pendidikan harus mempersiapkankedatangan generasi baru itu. Dalam tulisan ini, setidaknya ada 4 hal yang perludiperhatikan pendidikan dalam menyambut generasi digital. Pertama, kenali siswa lebihdalam. Kedua, inovasi paradigma pembelajaran. Ketiga, inovasi manajemen menciptakan ekosistem yang mengenal siswa lebih dalam adalah dasar dari seorang guru. Denganmembaca tentang fenomena munculnya generasi dari Baby Boomers sampai generasiGoogle Kids di atas, hal itu sudah menjadi langkah awal untuk mengetahui bahwazaman berubah. Pendidik sudah seharusnya mengetahui karakteristik siswa abad tidak bisa memaksakan siswa untuk kembali ke masa di mana guru dilahirkan danditempa. Guru yang sepatutnya memiliki karakter guru abad 21 mengikutiperkembangan zaman siswanya. Keterampilan abad 21 yaitu mampu memahami danmemanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi ICT Literacy Skills yang terdiri dari1 melek teknologi dan media; 2 melakukan komunikasi efektif; 3 berpikir kritis; 4memecahkan masalah; dan 5 berkolaborasi. Kedua, inovasi paradigma pembelajaran yang dapat dilakukan yaitupengembangan pembelajaran otentik. Merujuk pengertian pembelajaran dalamUndang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 mendefinisikan bahwa“Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumberbelajar pada suatu lingkungan belajar”. Lingkungan belajar abad 21 perlu dikembanganmelalui sistem instruksional yang harus mempertimbangkan konteks lingkungan eksternalnya yang lebih luas dari sekedar lingkup kelas atau sekolah. Artinya, guru disekolah harus menciptakan tujuan pembelajaran yang mampu membangun kompetensipeserta didik yang sesuai dengan kebutuhan di masa sebelumnya kita mengenal model pembelajaran Contextual TeachingLearning CTL yaitu belajar dari hal-hal yang nyata, kali ini siswa perlu kita ajak untukbelajar dari kenyataan, bukan hanya hal-hal yang nyata saja. Hal itu karena revolusidigital tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga cara berpikir, yaitu melakukan hal-halbaru dengan cara-cara baru yang sepenuhnya memanfaatkan kekuatan teknologi danmedia. Belajar bukan berdasarkan mata pelajaran, tetapi berbasis perlu adanya redefinisi manajemen kelas. Paradigma pendidikan eramilenial mendorong kesetaraan antara guru dan siswa dalam hal mengelola informasipembelajaran. Jika saat ini masih berkeyakinan bahwa guru sebagai sumber belajar, itusalah besar. Mungkin benar guru akan digantikan oleh teknologi, tetapi tidaksepenuhnya. Teori Benyamin S. Bloom yang masih digunakan di Indonesia sampai saatini yaitu kategori kognitif, afektif, dan psikomotorik belum sepenuhnya dapat diajarkanoleh teknologi. Afektif dan psikomotorik menjadi kategori yang masih dan akan tetapperlu campurtangan seorang dahulu guru dianggap sebagai fasilitator, sepertinya saat ini guru harusbertransformasi menjadi pemimpin dalam proses pendidikan di kelas. Walaupun kalahdengan mesin dan anak-anak didiknya sendiri, namun ada yang tidak bisa digantikandari peran seorang guru, yakni sikap keteladanan beserta turunannya, seperti empati,kasih sayang, kepedulian, dan sifat-sifat terpuji lainnya. Dari keteladanan inilah gurumasih bisa mempengaruhi dan mampu mendidik siswa. Siswa bisa berkembangdengan diberi kepercayaan dan kesempatan untuk memimpin. Maka kepemimpinanguru sebagai inti dari manajemen kelas adalah kemampuan untuk berbagi tanggungjawab kepemimpinan dengan semua budaya literasi menjadi prasyarat Abad 21 yang perlu SDM yang literat merupakan usaha pokok untuk meningkatkan kapasitasseseorang dalam produksi berbasis informasi. Menurut Tilaar 19994, yang dituntutdalam masyarakat abad 21 ialah sumber daya manusia yang unggul yang terusmenerus dapat bertahan di dalam sebuah persaingan atau masyarakat yang kompetitif dan menuntut kualitas kehidupan baik dalam produk maupun pelayanan di dalamkehidupan milenial mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan juga rasa inginberbagi yang besar pula. Hal itu terlihat dari maraknya persebaran hoaks di masyarakatyang sudah merusak tatanan masyarakat. Motif seseorang menyebarkan hoaks padadasarnya ingin memberi tahu kepada orang lain tentang informasi baru dan ia inginmenjadi orang pertama yang menyebarkan informasi itu. Namun, jika tidak dibarengidengan budaya literasi yang baik, maka nalar kritis siswa tidak dengan literasi, Tajuk Rencana Kompas mengutip dari data Badan PusatStatistik mencatat ada penurunan jumlah buta aksara pada usia 15-59 tahun. Padatahun 2004 masih ada 15,4 juta penduduk yang buta aksara atau 10,2 persen darijumlah penduduk, sedangkan pada 2010 jumlahnya turun menjadi 7,54 juta jiwa atau5,02 persen dari jumlah penduduk. Pada tahun 2017, jumlah ini turun lagi menjadi 3,4juta jiwa atau 2,04 persen dari jumlah penduduk. Masalahnya, hasil penelitianPerpustakaan Nasional tahun 2017 menunjukkan, frekuensi membaca orang Indonesiahanya 3-4 kali per minggu dengan lama waktu membaca per hari 30-59 menit. Tidaksampai satu jam. Waktu membaca ini jauh di bawah UNESCO, yakni 4-6 jam per jumlah buku yang ditamatkan masyarakat Indonesia hanya 5-6 buku kondisi tersebut tidak mencerminkan untuk generasi milenial, generasi zdan generasi alpha karena kecendrungan literasi mereka kepada media informasielektronik lebih tinggi dibanding literasi konvensional dengan sosial dan internet memiliki sisi negatif yang harus diwaspadai, salahpenggunaan akan berakibat fatal dan merugikan, penyebaran informasi sangat denganmudah, perlu ada sikap bijaksana dalam pengelolaan informasi yang bersumber darimedia sosial dan internet, data atau informasi tidak seluruhnya benar bahkan mediainformasi digital ini dijadikan alat untuk menyebar berita bohong hoaks dan ujarankebencian yang mengakibatkan terjadinya krisis sosial di masyarakat . Oleh karena itu,ekosistem literasi perlu dibangun bukan hanya di sekolah, tetapi keluarga danmasyarakat. Membangun ekosistem yang literat meliputi masyarakat yang peduli,sekolah bersinergi, dan didukung keluarga yang harmonis. Implementasi sekolahberbasis masyarakat menjadi landasan berpikir dalam membangun budaya literat ini, begitupun dengan peran guru sebagai fasilitator literasi sehat. Saat dunia tengahberubah menuju era kehidupan berbasis kecerdasan artifisial, maka literasi, dalamartian yang luas, merupakan kecakapan untuk bertahan menghadapi tantangan disrupsitotal yang diprediksi akan terjadi pada dekade ketiga abad tetap pendidikan walaupun berubah jaman pendidikan memegangperan penting dalam pengembangan intelegensi dan martabat bangsa, pendidikanindonesia yang sarat dengan norma dan akidah tetap harus dipertahankan, jangansampai teknologi membentuk akhlak yang tidak baik dan ini perlu peran serta danbimbingan dari seorang guru. Jangan sampai pendidikan sebagai teknik dipercanggih,tetapi pendidikan sebagai etik diterbelakangkan. Guru, sebagai pilar keteladanan bagisiswa tidak dapat digantikan oleh teknologi, karena pendidikan bukan hanya mencetakgenerasi yang berperadaban, tetapi juga generasi yang berkeadaban. Berkeadabaninilah sosok guru diperlukan sebagai mata air keteladanan. Karena guru yang baikbukan yang sekedar pintar, tapi yang mampu memberi inspirasi dan Guru Di Era MilenialGuru masih memegang peran penting yang sangat diperlukan dalam membekalidan membentuk kepribadian anak didik di era digital ini dan menjadikan tantanganyang semakin berat. Berikut ini beberapa kriteria guru di era digital Pertama, guru-guru yang lahir pada era generasi x dan sebelumnya harusmengajar mereka yang lahir pada era berikutnya. Tidak bisa tidak, setiap guru wajibmengikuti perkembangan teknologi. Guru tidak boleh lagi gagap teknologi. Komputerdan gawai harus sudah menjadi keseharian para guru. Media sosial dan berbagaisumber informasi maupun sosialisasi juga harus dipahami para guru sehingga dalamguru akan kaya dengan materi maupun metode pembelajaran. Siswa pun tidak akanmenganggap remeh selain menguasai perkembangan teknologi, guru dituntut jugamemahami kecenderungan yang terjadi terkait perubahan teknologi. Revolusi industripertama ditandai kemunculan mesin menggantikan tenaga manusia dan kedua ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motorpembakaran hingga muncullah pesawat telepon, mobil, pesawat terbang dan sebagainya. Generasi ketiga ditandai dengan kemunculan teknologi digital daninternet. Pada revolusi industri generasi keempat ditandai dengan kemunculansuperkomputer, robot pintar, rekayasa genetika dan perkembangan neuroteknologiyang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Muncul pola-pola baru ketika disruptif teknologi hadir begitu cepat dan mengancam keberadaanpola mengikuti perkembangan hasil kemajuan teknologi, guru bakal mampumemberikan sudut pandang, alternatif, bahkan solusi kepada para peserta didik. Disinilah peran guru yang tidak tergantikan oleh tantangan yang tak kalah penting dari para guru adalah bagaimanamenjaga karakter kebangsaan yang potensial terkikis oleh berbagai ideologi mulaidari hedonisme hingga radikalisme yang tidak sesuai dengan Pancasila dan serta nilai-nilai Pancasila lainnya justru sangat strategis ditularkan oleh gurukepada ditengarai sudah muncul guru agama yang tidak mengajarkan toleransi,pentingnya hidup berdampingan secara damai, dan nilai-nilai Pancasila sebagaifondasi kehidupan negara. Pada diri siswa ditanamkan nilai-nilai eksklusif, bahwa diluar kayakinannya adalah media sosial, guru malah ikut serta dalam gelombang ujaran kebencian atauikut serta menyebarkan berita bohong. Intoleransi telah menyebar bukan hanya padawarga biasa yang minim pendidikan, melainkan juga mereka yang terpelajar,termasuk para guru. Karena itu, pemerintah harus memastikan bahwa setiap guru,apa pun mata pelajarannya, memiliki wawasan kebangsaan. Toleransi dan wawasankebangsaan harus ditanamkan pada para siswa oleh setiap guru dan institusi pendidikan harus siap menyambut generasi digital,setidaknyaada 4 hal yang perlu diperhatikan dunia pendidikan dalam menyambut generasi kenali siswa lebih dalam. Kedua, inovasi paradigma pembelajaran. Ketiga,inovasi manajemen kelas. Keempat, menciptakan ekosistem yang literat. Membekali dan membentuk kepribadian anak didik menjadikan tantangan gurudi era digital ini dengan peran teknologi yang bisa menggantikan posisi guru karenaitu seorang guru harus melakukan pembelajaran yang menyesuaikan perkembanganjaman, guru dituntut juga memahami kecenderungan yang terjadi terkait perubahanteknologi, guru bakal mampu memberikan sudut pandang, alternatif, bahkan solusikepada para peserta didik. Di sinilah peran guru yang tidak tergantikan jamannya, seorang guru tetap seorang guru yang menjadisuritauladan muridnya, yang menjadi sumber inspirasi dan gudang jawaban dariseribu jawaban muridnya, karena itu image guru harus tetap dijaga dan dikultuskankesuciannya. Jangan karena tenologi guru hilang martabat dan harga Pustaka1. Uno, kependidikan problema,solusi dan reformasi pendidikan di Indonesia,Jakarta Aksara2007.1462. Azra, Azyumardi. Pendidikan Islam Tradisi Dan Modernisasi Di Tengah Tantangan Milenium III. Jakarta Kencana Prenada Media Group, Tilaar Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Indonesia. Magelang Ali, H., & Lilik Purwandi. 2017. Millennial Nusantara Pahami Karakternya, Rebut Simpatinya. Jakarta PT Gramedia Pustaka 6. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this has not been able to resolve any references for this publication. Tantangan Guru dan Masalah Sosial Di Era Digital Abstract Peran guru dalam pembelajaran era digital ada tujuh yakni a guru sebagai sumber belajar; peran guru sebagai sumber belajar berkaitan dengan kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran. b guru sebagai fasilitator; peran guru sebagai fasilitator dalam memberikan pelayanan kepada siswa untuk dapat memudahkan siswa menerima materi pelajaran. c guru sebagai pengelola; dalam proses pembelajaran, guru berperan untuk memegang kendali penuh atas iklim dalam suasana pembelajaran; d guru sebagai demonstrator; berperan sebagai demonstrator maksudnya disini bukanlah turun ke jalan untuk berdemo. Guru itu sebagai sosok yang berperan untuk menunjukkan sikap-sikap yang akan menginspirasi siswa untuk melakukan hal yang sama, bahkan lebih baik; e guru sebagai pembimbing; perannya sebagai seorang pembimbing, guru diminta untuk dapat mengarahkan kepada siswa untuk menjadi seperti yang diinginkannya; f guru sebagai motivator; proses pembelajaran akan berhasil jika siswa memiliki motivasi didalam dirinya; g guru sebagai elevator; guru haruslah mengevaluasi semua hasil yang telah dilakukan selama proses guru di era digital; guru sampai sekarang masih banyak memakai produk 80-an, sementara muridnya sudah memakai produk kontemporer. Akibatnya, para murid berbeda secara radikal dengan para guru, karena banyak terjadi ketidaknyambungan di sana-sini. Kita tahu bahwa murid sekarang tidak lagi cocok dengan sistem pendidikan abad 20. Namun, praksis di lapangan para guru masih tidak memahami hal ini. Banyak guru kita yang lambat mengejar laju modernisasi pendidikan. Yang terjadi kemudian adalah murid sudah mampu menerima informasi secara cepat dari berbagai sumber multimedia, sementara banyak guru acapkali memberikan informasi dengan lambat dan dari sumber-sumber terbatas. Keywords Guru, Masalah Sosial, Era Digital DOI Refbacks There are currently no refbacks. Copyright c 2020 Abdul Latif Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa Internasional. Jakarta ANTARA - Pandemi COVID-19 telah memaksa para guru untuk mengubah pola mengajar. Jika sebelumnya dilakukan secara konvensional atau tatap muka maka pandemi “memaksa” mereka memanfaatkan teknologi dalam menyampaikan pembelajaran melalui dunia sedikit para guru yang “gagap” dengan mendadaknya peralihan pola pembelajaran dari yang biasa dilakukan di sekolah menjadi di rumah. Menyadari hal itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan sejumlah upaya dalam membantu guru menghadapi transformasi digital. Langkah awal yang diluncurkan Kemendikbud, melalui laman Guru Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Iwan Syahril, mengatakan laman itu menjadi ruang bagi guru untuk saling berbagi semangat positif dan strategi pembelajaran yang kreatif, sehingga mereka tetap dapat melakukan proses pembelajaran yang berkualitas dan menyenangkan, sembari membantu sesama yang masih beradaptasi dalam situasi sulit. Melalui laman tersebut, para guru berbagi praktik, baik pembelajaran selama masa pandemi, seperti rencana pelaksanaan pembelajaran RPP yang efektif. Program lainnya dalam membantu guru beradaptasi, yakni Program Guru Penggerak, Program Organisasi Penggerak, hingga Program Guru Belajar Seri Masa Pandemi COVID-19. “Melalui Guru Belajar tersebut, guru dilatih untuk melakukan pembelajaran secara daring sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan selama masa pandemi COVID-19,” katanya. Iwan mengakui situasi pandemi COVID-19 membuat pembelajaran menjadi tidak mudah. Transformasi pembelajaran digital sebenarnya sudah dicanangkan sejak lama. Namun, tidak terlaksana dengan baik. Pandemi COVID-19 mempunyai sisi positif, yakni mempercepat transformasi digital pada proses pembelajaran. Seluruh guru mau tak mau harus belajar dan mengakrabi teknologi. Para guru mesti memiliki mental pembelajar sepanjang hayat agar dapat adaptif dengan segala kondisi. Sebagai Dirjen GTK yang baru diangkat pada Mei 2020, Iwan mengatakan tantangan utama mengubah pola pikir guru yang sebelumnya pembelajaran berpusat pada guru menjadi pada siswa. "Semua kebijakan pendidikan, semua program pendidikan, harus diukur dari keberhasilannya dalam memberikan layanan yang semakin baik terhadap murid dan keberhasilannya dalam meningkatkan hasil belajar murid," pendidikan berpusat kepada murid, disebut dia, sudah dicanangkan Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Hajar Dewantara berpesan bahwa semua pemangku kepentingan dalam pendidikan haruslah bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, tidak untuk meminta sesuatu hak, namun untuk berhamba pada sang anak."Oleh karena itu kita tidak saja harus melakukan pembelajaran yang berpusat kepada anak, namun juga harus merencanakan, menghasilkan dan mengimplementasikan kebijakan dan program pendidikan yang berpusat kepada anak," kata dia. Tantangan kedua, adalah mengembangkan budaya inovasi di dalam lingkungan kerja Ditjen GTK dan di dalam ekosistem pendidikan. Tantangan zaman yang dihadapi saat ini membutuhkan keberanian untuk mengembangkan ide-ide baru untuk mereimajinasi cara bekerja di semua sektor. Bantuan bagi guru Selama pandemi, Kemendikbud melakukan relaksasi penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah BOS, yang mana dapat digunakan untuk membayar gaji guru honorer tanpa harus terikat dengan persentase. Kebijakan itu dilakukan untuk membantu para guru honorer yang kesulitan saat pandemi COVID-19. Kemendikbud juga memberikan Bantuan Subsidi Upah BSU kepada guru maupun tenaga kependidikan honorer yang memiliki gaji di bawah per bulan. Bantuan tersebut diberikan kepada pendidik dan tenaga kependidikan PTK non-PNS, baik guru maupun dosen, di sekolah negeri dan swasta. Kriterianya sangat sederhana, yakni warga negara Indonesia, berstatus bukan PNS, memiliki penghasilan di bawah dan tidak menerima bantuan subsidi upah gaji dari Kemenaker dan program-program lainnya. Selain itu, tidak menerima Kartu Prakerja sampai dengan 1 Oktober 2020. Bantuan subsidi upah tersebut diberikan satu kali, yakni Rp1,8 juta. Sasaran mereka yang mendapatkan BSU tersebut berstatus non-PNS, meliputi dosen, guru, guru yang bertugas sebagai kepala sekolah, pendidik PAUD, pendidik kesetaraan, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, dan tenaga administrasi. Total sasaran orang terdiri atas dosen perguruan tinggi negeri dan swasta, guru dan pendidik pada satuan pendidikan negeri dan swasta, serta tenaga perpustakaan, tenaga umum, dan tenaga administrasi. Berikutnya yang mulai diselesaikan Kemendikbud pada 2020 persoalan guru honorer. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim mengatakan dengan teknologi sejumlah persoalan terkait dengan pendidikan dan kebudayaan dapat diselesaikan. “Mulai dari mekanisme dana BOS, yang dulu berbelit-belit kini langsung ke sekolah. Begitu juga dengan persoalan guru honorer kita selesaikan berkat bantuan teknologi,” terang dia. Kemendikbud membuka kesempatan bagi guru honorer untuk dapat mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja PPPK pada 2021. Seleksi itu dibuka karena berdasarkan Data Pokok Pendidikan Dapodik Kemendikbud memperkirakan bahwa kebutuhan guru di sekolah negeri mencapai satu juta orang, di luar guru PNS yang saat ini mengajar. Pembukaan seleksi untuk menjadi guru PPPK upaya menyediakan kesempatan yang adil untuk guru honorer yang kompeten agar dapat mendapatkan penghasilan secara yang dapat mendaftar dan mengikuti seleksi tersebut adalah guru honorer di sekolah negeri dan swasta yang terdaftar di Dapodik dan lulusan Pendidikan Profesi Guru PPG yang saat ini tidak mengajar. Seleksi guru PPPK pada 2021 berbeda dengan tahun sebelumnya. Jika sebelumnya formasi guru PPPK terbatas maka pada 2021 semua guru honorer dan lulusan PPG bisa mendaftar dan mengikuti seleksi, serta bagi yang lulus seleksi akan menjadi guru PPPK hingga batas satu juta pusat juga mengundang pemerintah daerah untuk mengajukan formasi lebih banyak sesuai dengan kebutuhan. Perbedaan selanjutnya, jika sebelumnya setiap pendaftar diberikan kesempatan mengikuti ujian seleksi satu kali maka pada 2021 diberikan kesempatan hingga tiga kali. Selain itu, jika sebelumnya tidak ada materi persiapan untuk pendaftar maka pada 2021 Kemendikbud menyiapkan materi pembelajaran secara daring untuk membantu pendaftar mempersiapkan diri sebelum ujian. Jika sebelumnya pemerintah daerah harus menyiapkan anggaran gaji peserta yang lulus seleksi guru PPPK maka pada tahun ini pemerintah pusat memastikan tersedianya anggaran bagi gaji semua peserta yang lulus seleksi guru itu, jika sebelumnya biaya penyelenggaraan ujian ditanggung pemerintah daerah maka pada 2021 ditanggung Kemendikbud. Dengan sejumlah langkah yang diambil Kemendikbud tersebut, sejumlah persoalan guru perlahan dapat depan, diharapkan tidak hanya persoalan status guru yang dapat diatasi tetapi juga kompetensi guru karena menyangkut masa depan siswa Indonesia. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Guru adalah sebuah profesi yang sangat mulia. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, disana dikatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama, yaitu mendidikmengajarmembimbingmengarahkanmelatihmenilaimengevaluasiSemboyan Ki Hadjar Dewantara tentang tiga asas pendidikan yaitu Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut wuri Handayani. Penerapan dalam pendidikan dapat dipahami bahwa guru sebagai pendidik memiliki peran yaituIng Ngarso Tuludo seorang guru harus mampu memberikan contoh atau teladan yang baik bagi kepada siswa-siswinyaIng Madya Mangun Karsa seorang guru harus mampu memberikan dorongan atau semangat untuk Wuri Handayani seorang guru harus mampu mengarahkan siswa-siswinya pada jalan yang beberapa pengertian di atas jelas sekali bahwa guru profesional adalah orang yang terlibat dalam pendidikan yang tugasnya tidaklah mudah, bukan hanya sekedar mentransfer ilmu kepada peserta didik akan tetapi lebih dari itu. Dengan zaman yang serba mudah dan canggih seperti sekarang, peserta didik tidak terlepas dari teknologi sebagai alat untuk membantu dalam kehidupan kesehariannya. Zaman dengan generasi digital ini, guru dituntut untuk menyesuaikan dengan karakteristik peserta didik yang individual, serba ingin tahu, interaktif dan senang hal-hal yang serba instan. Guru perlu tekad untuk senantiasa berinovasi, upgrade ilmu dan memiliki strategi-strategi untuk menghadapi tantangan tersebut, diantaranya adalah mampu bergerak dan berfikir dinamis kritismampu berbaur dengan peserta didik dengan berbagai latar belakang kepribadianmampu melakukan pembelajaran yang kreatif sehingga peserta didik tidak cepat bosan dan tertarik pada pembelajaranmampu mendesain pembelajaran sesuai dengan gaya belajarmampu memberikan pengajaran dengan memberikan contoh nyata dari kehidupan sehari-hari agar peserta didik pahammampu mengemas materi pembelajaran menjadi lebih sederhana dan menarikmampu menjadi teman di situasi tertentumampu memahami peserta didik dengan setiap karakteristiknyamemiliki kesabaran dan pengendalian diri serta kelapangan hatiharus 'melek' penjelasan di atas artinya terdapat kompetensi guru yang harus dimiliki guru, yaituKompetensi pedagogik Kompetensi kepribadianKompetensi sosial Kompetensi profesional Tidak kalah pentingnya permasalahan-permasalahan yang kerap dan seringkali muncul dan dialami oleh guru saat ini berhubungan dengan literasi numerasi, motivasi untuk belajar, kedisiplinan dan sopan santun. Yang sejatinya banyak faktor yang mempengaruhinya, baik dari dari diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Perlu pembiasaan-pembiasaan dari hal-hal kecil dan berkelanjutan, tentunya dengan kerjasama antar tenaga pendidik dalam menghadapinya sehingga adanya perbaikan ke arah positif. Semoga kita bisa menjadi pendidik yang mampu menghadapi tantangan-tantangan diatas dengan bijak, penuh kesabaran dan keikhlasan untuk mencetak generasi bangsa yang berkualitas. Ingat sebuah pepatah, "Orang hebat dapat menciptakan sebuah karya hebat, namun guru hebat, bisa menciptakan ribuan orang hebat." Lihat Pendidikan Selengkapnya

tantangan guru di era digital